Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 23 November 2009

EFISIENSI UNIT-UNIT KEGIATAN EKONOMI INDUSTRI GULA YANG MENGGUNAKAN PROSES KARBONATASI DI INDONESIA VICTOR SIAGIAN

Motivasi studi ini berkaitan dengan maraknya isu mengenai pro-kontra impor produk pertanian khususnya gula. Isu tersebut merebak karena dihadapkan kepada kekuatan pihak produsen gula domestik, khususnya petani tebu, akan terancam kelangsungan produksi gula dalam negeri. Kekuatan produsen gula domestik dapat dipahami karena harga pasar gula impor lebih rendah dari harga gula produksi domestik. Produksi gula nasional semakin menurun selama beberapa tahun terakhir. Produksi gula nasional pernah meningkat relatif cepat dalam periode 1980-an, akan tetapi lambat sekali dalam periode awal 1990-an, dan setelah tahun 1994 produksi gula nasional terus menurun. Peningkatan produksi gula adalah disebabkan oleh perluasan areal tanaman tebu, bukan disebabkan oleh peningkatan produktivitas (Sekretariat Dewan Gula, 2001).
Menurut P3GI (1997), salah satu langkah yang perlu ditempuh dalam pembangunan industri gula adalah melalui peningkatan efisiensi pabrik gula. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya efisiensi pabrik gula adalah :
(1) pabrik yang sudah tua,
(2) harigiling yang belum optimal,
(3) kapasitas giling yang kurang dari 2.000 ton tebu per hari dan
(4) jam berhenti giling yang tinggi.

Perbandingan secara kasar tingkat efisiensi antar pabrik gula yang menggunakan proses karbonatasi dapat dilihat dari rasio antara biaya yang dikeluarkan dengan penerimaan yang diperoleh. Semakin kecil rasio biaya dengan penerimaan mengindikasikan bahwa proses produksi berjalan semakin efisien dan berlaku sebaliknya. Hal ini diakibatkan oleh hubungan adanya hubungan positif antara penerimaan dengan keuntungan dan hubungan negatif antar biaya dengan keuntungan. Sehingga semakin tinggi tingkat penerimaan dengan biaya semakin kecil akan berdampak pada peningkatan perolehan keuntungan perusahaan.
Dari 5 pabrik gula yang menggunakan proses karbonatasi terlihat bahwa 2 pabrik gula yang memiliki tingkat rasio paling rendah adalah Sweet Indo Lampung dan Indo LampungPerkasa. Kedua pabrik gula tersebut diduga memiliki tingkat efisiensi paling tinggi. Sedangkan 3 pabrik gula yang memiliki tingkat rasio paling tinggi adalah Tasik Madu, Gondang Baru dan Rejoagung Baru. Ketiga pabrik gula tersebut diduga memiliki tingkat efisiensi paling rendah. Pabrik-pabrik gula dengan proses karbonatasi yang tingkat efisiensinya masih relative rendah dapat diperbaiki dengan mengacu pada pabrik-pabrik yang relatif lebih efisien.

matkul metode riset
Jurnal data sekunder

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar